Bagi teman-teman yang sering mengunduh file pdf dan agak kesulitan merubahnya menjadi file doc, mungkin link berikut dapat membantu, mudah, gratis, dan hasilnya bagus tapi harus sedikit bersabar.
Blog ini saya niatkan sebagai media saya untuk belajar menulis dan berbagi ilmu dengan semua pemerhati pendidikan khususnya bagi Bapak dan Ibu guru. Saya berharap Bapak/Ibu yang memiliki artikel menarik dapat ikut serta mengisi blog ini dengan mengirimkannya ke email saya.Terima kasih
Kamis, 07 April 2011
Mahasiswi UGM Temukan Vaksin Flu Burung Dari Mahkota Dewa
REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Artina Prastiwi (22) mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan vaksin penghambat virus H5N1 (flu burung) dalam tubuh unggas. Vaksin yang ditemukan mahasiswi asal Nglipar, Gunungkidul ini berasal dari ekstrak buah Mahkota Dewa yang banyak terdapat di seluruh pelosok Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Berkat penemuannya, mahasiswi tingkat akhir UGM ini meraih dua predikat sekaligus dana dalam lomba penelitia yang dilakukan Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MIPI) di Bogor, akhir Januari 2011 lalu. Dua predikat tersebut adalah juara satu lomba penelitian dan karya penelitian terbaik.
“Tumbuhan Mahkota Dewa banyak terdapat di berbagai wilayah di DIY, bahkan melimpah. Selama ini vaksin flu burung semuanya berbahan kimia. Selain mahal, itu juga berdampak buruk pada unggas yang divaksin, sehingga saya berupaya menciptakan temuan vaksin dari bahan herbal,” paparnya saaat berbincang di UGM, Kamis (3/3).
Berkat penemuannya, mahasiswi tingkat akhir UGM ini meraih dua predikat sekaligus dana dalam lomba penelitia yang dilakukan Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MIPI) di Bogor, akhir Januari 2011 lalu. Dua predikat tersebut adalah juara satu lomba penelitian dan karya penelitian terbaik.
“Tumbuhan Mahkota Dewa banyak terdapat di berbagai wilayah di DIY, bahkan melimpah. Selama ini vaksin flu burung semuanya berbahan kimia. Selain mahal, itu juga berdampak buruk pada unggas yang divaksin, sehingga saya berupaya menciptakan temuan vaksin dari bahan herbal,” paparnya saaat berbincang di UGM, Kamis (3/3).
Rabu, 06 April 2011
NYONTEK
Halak & Poisson dalam Corrupt Schools, Corrupt Universities: What can be done? (2007) membedakan lima bentuk korupsi dalam pendidikan, yaitu penggelapan (embezzlement), (suap (bribery), penipuan, pemerasan, dan pilih kasih (favoritism). Dalam kasus penipuan, Halak & Poisson secara tegas merujuk pada kasus-kasus banyaknya orang yang menggunakan ijazah palsu serta guru dan pengawas yang kesukaannya adalah membantu anak-didik mereka menjawab soal-soal dalam sebuah tes atau ujian. Semua bentuk penyalahgunaan ini pasti banyak sekali contohnya dalam praktek pendidikan kita.
Sekarang mari bertanya pada diri kita sendiri, “pernahkah kita melakukan praktek mencontek ketika bersekolah dulu?” Hampir dapat dipastikan bahwa jawaban kita semua hampir 90% menyatakan pernah menyontek. Tetapi jika pertanyaannya adalah, “apakah ketika kita menyontek di sekolah dulu lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan (budaya sekolah) atau murni dorongan dari keinginan secara pribadi,” maka jawabannya menurut Edu tetap sama, yaitu 90% responden pasti akan menjawab karena faktor lingkungan (budaya sekolah). Dari perspektif keabadian psikologis kemanusiaan, faktor lingkungan (budaya sekolah) merupakan alasan pembenaran nomor satu untuk mendukung budaya mencontek kita di sekolah. Bahkan hingga saat ini, praktek mencontek malah tumbuh subur di kalangan pendidik dan lembaga pendidikan, terutama dan salah satunya dipicu oleh kebijakan tentang Ujian Nasional (UN).
Ambil contoh pengalaman Edu dalam membina Sekolah Sukma Bangsa (SSB) di Aceh. Setiap tahun ajaran baru, manajemen SSB selalu disibukkan untuk melakukan adjusment terhadap rata-rata nilai ijazah dan hasil UN siswa yang masuk ke SSB. Betapa tidak, rata-rata nilai siswa yang masuk ke SSB untuk setiap mata pelajaran yang di UN-kan adalah 7-9. Tetapi ketika dilakukan test ulang terhadap semua peserta ujian masuk ke SSB dengan menggunakan pola soal seperti di UN bahkan dengan tingkat kesulitan yang telah diturunkan hingga 25%, hasilnya sungguh menakjubkan! Rata-rata siswa hanya memiliki nilai 2-4, artinya mereka sesungguhnya tak layak lulus UN. Tetapi mengapa masih tetap lulus? Jawabannya ada pada kepolosan anak-anak yang mengaku bahwa hampir seluruh jawaban yang di UN-kan dibantu oleh para guru mereka, di mana praktek mencontek marak ditolelir agar mereka bisa lulus.
Mengapa anak-anak yang masuk ke SSB mau secara sukarela mengakui praktek kecurangan tersebut? Jawabannya sederhana, yaitu karena di SSB mereka harus patuh pada budaya sekolah SSB di mana apabila setiap siswa dan guru melakukan pelanggaran terhadap tiga hal, yaitu mencontek, melakukan kekerasan (psikis dan fisik), dan merokok, maka setelah melalui proses pemberitahuan, nasehat, dan pemanggilan orangtua, seorang guru dan siswa dapat dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dalam 3 tahun ada 9 orang siswa dan 2 orang guru yang dikeluarkan gara-gara melanggar aturan tersebut. Tujuan pendidikan di SSB dikemas amatlah sederhana, di mana salah satu pedoman yang dipegang manajemen adalah petuah dari Albert Einstein, yaitu bahwa hasil akhir dari sebuah proses pendidikan adalah membuat seseorang dapat menghargai dirinya sendiri (Try not to become a man of success but a man of value). Dengan pemahaman seperti ini manajemen SSB patut berbangga, karena pada prakteknya saat ini kesadaran untuk tidak mencontek sangat tinggi di kalangan siswa. Bahkan beberapa siswa yang secara akademis tak memiliki keunggulan sekalipun berani untuk mengikuti ujian dengan hanya berbekal pensil dan pulpen ketika masuk ke ruang kelas saat ujian berlangsung. Artinya kepercayaan diri mereka untuk tidak mencontek sudah berubah menjadi semcam habit dan semoga akan berbuah kejujuran.
Praktek penipuan dengan modus memberti contekan saat berlangsungnya UN juga Edu rasa terjadi hampir di seluruh wilayah Republik ini. Ada sebuah cerita tragis dan ironis dari seorang teman Edu yang kini sedang mengambil program magister pendidikan di salah satu universitas di Jakarta. Teman Edu bercerita tentang pengakuan seorang Kepala Madrasah di Jakarta yang juga mengkuti program magister tersebut, di mana sang kepala sekolah dalam 3 tahun terakhir ini meluluskan 100% anak didiknya yang mengikuti UN dengan cara memberikan contekan dengan berbagai cara. Dalam pemahaman Kepala Madrasah ini, adalah “zholim” jika kita tak membantu anak-anak untuk lulus UN. Sebuah statement yang menjungkirba-likkan makna “zholim” dalam pemahaman keagamaan kita. Astaghfirullah al-‘adzim.
TRAGEDI SEKOLAH BINATANG
Suatu ketika, bangsa Binatang sakit hati karena dilecehkan bangsa Manusia. Hal ini dilaporkan oleh anjing, burung, dan kucing, dimana sebagai peliharaan tiap hari mereka mendengar umpatan, makian, dan sumpah serapah yang menggunakan nama binatang dengan kandungan emosi paling buruk.
Untuk membuktikan sebaliknya, bangsa Binatang pun bertekad meningkatkan peradaban mereka. Komite sekolah pun dibentuk dimana setiap suku hewan diwakili oleh seekor tetua yang dianggap paling arif di komunitasnya.
Pada hari mereka sedang membahas kurikulum suku Burung mengusulkan pelajaran terbang harus ada. Suku Kelelawar menghendaki adanya pelajaran teknik tidur dengan kepala di bawah. Sedangkan suku Cicak menekankan perlunya pelajaran merayap di langit-langit.
Begitulah, dalam kurikulum sekolah binatang itu, terdapat berbagai mata pelajaran yang sangat menarik seperti berkicau, berkotek, berenang, mendesis, mematuk, menerkam, melenguh, mengaum, menyelam, dan melompat. Semua ini digolongkan dalam kelompok pelajaran dasar.
Di tingkat menengah, terdapat berbagai pelajaran yang lebih canggih seperti teknik pura-pura mati, kiat berganti kulit, menukik tanpa bunyi, dan membelit musuh tanpa gejolak.
Sedangkan pelajaran di tingkat lanjut mencakup ilmu-ilmu yang lebih hebat seperti pedoman metamorfosa, teknik mengobati diri sendiri, jurus kawin sambil terbang, dan rahasia bernafas dalam lumpur.
Juga diputuskan, jika putra-putri hewan itu tamat, setiap lulusan tingkat dasar akan mendapat gelar Pr (singkatan dari prigel), alumni tingkat menengah diberi gelar Tr (singkatan dari trengginas), dan jebolan tingkat lanjut berhak memakai gelar Pw (singkatan dari piawai).
Mereka berharap nama binatang sekolahan akan lebih bergengsi, misalnya Bebek Peking Pr, Ular Beludak Tr, atau Tupai Pedidit Pw. Pokoknya, mereka tak mau kalah dengan bangsa Manusia yang sangat bangga dengan gelar-gelar sekolah seperti BA, MA, atau PhD. Dan seperti manusia, mereka juga percaya bahwa bergelar berarti sukses. Binatang ingin setara dengan manusia dan dihargai penuh martabat.
***
Tetapi sesudah meluluskan 10 angkatan, sekolah binatang akhirnya dibubarkan. Intinya, sekolah binatang dinilai gagal total. Gelar-gelar yang sempat diberikan pun dicabut. Gelar Prigel, Trengginas, dan Piawai dianggap hanya gombal.
Apa gerangan sebabnya? Binatang tidak sanggup mengevaluasi lebih lanjut. Pokoknya, sekolah dibubarkan karena hasilnya jelek. Begitu saja.
Namun, karena bangsa Manusia suka meneliti maka diturunkanlah sebuah tim pencari fakta. Tim inilah yang akhirnya berhasil menemukan sebab kegagalan itu.
Kesimpulan terpenting: sekolah binatang itu gagal karena pada semua mata pelajaran, setiap murid mendapat nilai minimum C. Ini diperoleh sesudah menganalisa sejumlah fakta yang aneh. Ditemukan misalnya, dalam pelajaran berenang pun ikan hanya mendapat C. Dalam pelajaran terbang burung juga cuma dinilai C. Demikian pula nilai rusa dalam pelajaran berlari dihargai dengan C saja. Pokoknya setiap binatang cuma mendapat C dalam kompetensi alamiah masing-masing. Yang paling aneh, meskipun nilai mereka C di rapor, ketika diuji secara aktual, kompetensi itu hanya pantas mendapat F, alias tidak kompeten sama sekali.
Bagaimana mungkin sekolah merusak kompetensi alamiah anak-anak binatang itu?
Rupanya, saat praktikum berenang sayap burung rusak parah, sehingga saat dipakai dalam praktikum terbang, sayap itu tak berguna lagi. Namun burung mendapat C juga dalam terbang maupun berenang karena ia tak pernah absen dan suka menolong teman.
Ketika praktik bernafas dalam lumpur sayap kelelawar berpatahan, sehingga saat ia harus terbang malam arahnya jadi ngawur dan menabrak pohon. Namun kelelawar mendapat C dalam keduanya karena ia selalu bersikap sungguh-sungguh dan hormat pada guru.
Pokoknya, semua anak binatang cuma mendapat C dalam setiap mata pelajaran bukan karena kompetensinya tetapi karena soal-soal di luarnya. Fakta di balik rapor dan ijazah, semua lulusan sekolah binatang ternyata tidak kompeten. Mereka seharusnya diberi nilai E dan F saja. Salah satu buktinya, ketika lowongan kerja penerbang dibuka, dari 10.000 burung yang melamar yang diterima cuma 12 ekor saja. Sesudah diterima pun, statusnya cuma pegawai honorer dengan gaji ala kadarnya untuk sekadar hidup dari bulan ke bulan.
Inilah ironi sekolah binatang sehingga akhirnya dibubarkan.
Selasa, 05 April 2011
Jumat, 01 April 2011
TITIK NOL
Gak kerasa sudah lebih dari 19 tahun saya mengajar. Tersadar, ternyata masih sedikit saya perbuat.
Hari Minggu yang baru lalu tanggal 27 Maret 2011 mudah-mudahan benar-benar bisa membuka mata dan fikiran saya untuk menjadi lebih baik, lebih bermakna dan lebih kreatif.
Sebenernya sudah lama banget saya pingin bisa mempunyai blog, nulis dan berbagi ilmu melalui internet. Saya sangat terkagum dengan teman-teman guru yang sudah terlebih dahulu aktif menulis dan memiliki blog, salah satunya blog yang dibuat oleh pak Akhmad Sudrajat.
Alhamdulillah, pada hari Minggu itu saya kembali "diingatkan" oleh Om Wijaya Kusumah sehingga terpicu dan terpacu lagi keinginan saya untuk dapat menulis dan membuat blog.
Pada hari itu saya ikut seminar "Memanfaatkan Media Massa Sebagai Media Pembelajaran" yang dilaksanakan oleh IGI (ikatan Guru Indonesia). Salah satu narasumbernya adalah "Om Jay" yang menyampaikan materi "MENULIS ITU MUDAH". Beliau mengajak dan mempraktekkan langsung bagaimana mudahnya menulis asal kita mau sedikit meluangkan waktu. Pada saat itu beliau meminta semua peserta seminar untuk berkontemplasi sejenak selama 5 menit untuk merenungkan dan memikirkan kenapa mau menjadi guru? Kemudian setelah itu semua peserta seminar diminta untuk menuliskan apa yang telah dipikirkan tadi. Ternyata beliau benar, hanya dengan 5 menit semua peserta seminar dapat menulis minimal satu halaman.
Agar tidak kehilangan momentum, maka saya putuskan untuk segera dapat membuat blog, untuk dapat menulis apa-apa yang sedang saya pikirkan. Alhamdulillah sekarang saya sudah dapat memulai, mudah-mudahan Allah selalu memberikan kekuatan dan semangat agar saya terus dapat menulis, seperti yang disampaikan "Om Jay" yang penting ada kemauan, cukup luangkan waktu lima menit sehari. Amin
Hari Minggu yang baru lalu tanggal 27 Maret 2011 mudah-mudahan benar-benar bisa membuka mata dan fikiran saya untuk menjadi lebih baik, lebih bermakna dan lebih kreatif.
Sebenernya sudah lama banget saya pingin bisa mempunyai blog, nulis dan berbagi ilmu melalui internet. Saya sangat terkagum dengan teman-teman guru yang sudah terlebih dahulu aktif menulis dan memiliki blog, salah satunya blog yang dibuat oleh pak Akhmad Sudrajat.
Alhamdulillah, pada hari Minggu itu saya kembali "diingatkan" oleh Om Wijaya Kusumah sehingga terpicu dan terpacu lagi keinginan saya untuk dapat menulis dan membuat blog.
Pada hari itu saya ikut seminar "Memanfaatkan Media Massa Sebagai Media Pembelajaran" yang dilaksanakan oleh IGI (ikatan Guru Indonesia). Salah satu narasumbernya adalah "Om Jay" yang menyampaikan materi "MENULIS ITU MUDAH". Beliau mengajak dan mempraktekkan langsung bagaimana mudahnya menulis asal kita mau sedikit meluangkan waktu. Pada saat itu beliau meminta semua peserta seminar untuk berkontemplasi sejenak selama 5 menit untuk merenungkan dan memikirkan kenapa mau menjadi guru? Kemudian setelah itu semua peserta seminar diminta untuk menuliskan apa yang telah dipikirkan tadi. Ternyata beliau benar, hanya dengan 5 menit semua peserta seminar dapat menulis minimal satu halaman.
Agar tidak kehilangan momentum, maka saya putuskan untuk segera dapat membuat blog, untuk dapat menulis apa-apa yang sedang saya pikirkan. Alhamdulillah sekarang saya sudah dapat memulai, mudah-mudahan Allah selalu memberikan kekuatan dan semangat agar saya terus dapat menulis, seperti yang disampaikan "Om Jay" yang penting ada kemauan, cukup luangkan waktu lima menit sehari. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)